Skip to main content

Posts

C I N T A

"Aku malu dengan diriku. Aku malu telah berani mengharapkanmu. Aku malu telah menyatakan hal yang tidak kamu miliki rasanya. Aku malu telah jatuh cinta kepada sosok yang hanya sebatas penyemangat." Ini rasa yang aku sembunyikan selama tiga tahun.  Waktu sebelum panitia wisuda memanggil namaku sebagai mahasiswi dengan IPK terbaik. Waktu sebelum kamu menarik tanganku, dan mengajakku bercumbu dengan hujan. Waktu sebelum Kedai Arch menjadi tempat terakhir kita bertukar pikiran. ** "Selamat atas keberhasilan yang selalu kamu impikan." Bungkusan kado kamu suguhkan kepadaku. Entah apa isinya, tidak segera aku buka. "Terima kasih, semua juga berkat kerja sama kita." Ucapku dengan senyuman sederhana yang tidak lagi asing. Antara aku dan kamu. Antara malam ini dan kemarin. Ada rasa yang berbeda, setelah hujan siang tadi. Setelah aku sampaikan perasaan tertahanku selama tiga tahun. Semuanya berubah, bahkan malam ini. Malam yang sama seperti malam kemarin, mem...

Selama Jantungku Berdetak

Aku selalu mencintaimu. Seperti yang selalu aku bilang sebelum, sesudah, hingga selamanya denganmu. Dalam keadaanmu saat ini pun, aku masih selalu menciummu, meyakinkan kamu bahwa aku tidak ingin beranjak menjadi isteri yang selalu kamu banggakan. Kamu yang membuat aku menjadi wanita kuat. Padahal dahulu, sebelum aku mengenalmu, aku hanyalah wanita manja yang berpura-pura kuat dan takut jatuh cinta. Namun, setelah kamu mengubah jalan pikiranku dengan sabar, semua berubah dan aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepadamu ketika malam minggu di Villa milik keluargaku. Tidak menyangka kamu akan datang bersama rombongan dan meminangku, padahal kita baru saja bertemu sapa sepekan lalu. Ingatkah? Kamu harus ingat itu. Bahwa cintaku bukan karena kamu yang tampan dan diidamkan. Tetapi karena kamu tahu harus memperlakukan hatiku seperti apa. Jadi, jangan lagi memintaku mencari selain kamu hanya untuk meringankan batinku semata. Semua sudah menjadi tumpukan buku usang yang siap dimuseumkan. Aku...

Mr. Pras : Sehangat Sepahit (Spesial Percakapan Nafa dan Manda)

Delapan Desember 2015 … “Jangan memaksakan diri.” Sebuah suara yang tidak asing. Manda berdiri tepat di sisi kiriku. Menatap sungai Kapuas dengan menantang. Dia tampak hebat kali ini, dengan setelan seperti wanita kurang beruntung yang tegar meski tidak mendapatkan sosok yang kuabadikan dalam aksara. “Ada kehidupan di sana, dan seseorang harus menyelamatkannya.” “Tidak bisa yang berarti bisa, kan?” “He…” Aku terkekeh getir mendengar pengakuan wanita cantik satu ini. Rasaya pahit pekat kopi yang sedang kuseruput berubah hambar seketika. “Aku hanya sekadar pamit. Tapi dia justeru mengusirku tanpa terduga.” “Itu berarti dia tidak ingin kamu pergi dalam arti sebenarnya. Tinggallah beberapa saat, saya mohon.” “Tidak bisa.” “Kemana kamu akan pergi?” “Jakarta. Aku akan tinggal beberapa saat di sana, memutuskan apakah aku harus pergi atau sekedar menghilang kemudian kemba...

Dari Pembawa Air untuk Si Kembar

Semua berawal di tanggal 23 Juli 2017. Kurasa begitu, Aku mengenalnya. Bukan, lebih tepatnya kita berkenalan. Seperti biasa, basa-basi, kolaborasi, bertanya kabar, dan akhirnya menjadi candu. Semua terlihat begitu normal. Yah, ini jaman lebih maju dari ketika Cleopatra dan Caesar berhubungan. Juga lebih manis dari cerita sedih Romeo dan Juliet. Tapi, aku memiliki sebuah kenangan tersendiri tentang si Kembar. Dia, yang berada di lingkaran planet Merkurius dan si pemilik batu bintang Moss Agate. Si Kembar yang dua pekan ini membuatku sedikit sayang lebih dari yang seharusnya. Jika (dia) membaca ini; tolong cukup datang sekali saja. Karena kepergian itu sulit untuk kita masing-masing. Meski dia begitu pemilih karena takut patah hati, tapi aku selalu tahu bahwa dia pun sama rindunya denganku saat ini. Jangan tanya mengapa kami tak saling menyapa. Karena dalam tantangan, kita hanya bisa menahan rindu. Hingga dua pekan ke depan. Dan jangan katakan itu mudah, itu sangat sulit!!! Aku me...

Untuk Yang Ditemukan Pada 1812

Aku memulai perjalanan sore di sebuah aplikasi. Iya, sebuah tempat yang mengajakku bermanis ria dengan lebah dan para madu muda-tua. Mereka menyapa hangat, saling mengingat, berkenalan, lebih tepatnya; mencari koleksi kotak nyaman untuk nanti dimainkan kala bosan. Namun, satu sudut di ujung Yordania. Pilar tinggi, bangunan? Istana? Entah, yang pasti itu terbuat atau berarti batu. Keras, luar dalam. Aku menemukan kenyamanan yang tak hanya datang ketika bosan. Ditemukan pada 1812. Kotanya suku Nabatea ini membuatku jatuh cinta di percakapan dini hari pertamaku dan dia. Aneh, biasanya aku cinta sebab jumpa, bukan bercakap via chating di sebuah aplikasi sosial media. Kota ini pernah hilang ratusan tahun, kata Tom Parker, peneliti dari North Carolina yang sudah 45 tahun meneliti Timur Tengah. Dan mungkin sebab hilang itu, muncul kembali, dan menginvasi dini hariku untuk menerima pekerjaan baru; merindukan sapaannya. Yang aku suka selain sapaan, mungkin budaya klasik Romawi yang masih ...

Pukul 20.57 di 18 Juli 2017

Ini pukul 20.57 milikku setelah yang kedua belas kalinya tanpa bertemu denganmu. Rasanya menyedihkan, aku menikmati banyak bahagia tanpa bisa berbagi senyum dan cerita asap denganmu. Walaupun begitu sedih, aku tahu, kau bahagia saat ini. Dan ketika seorang teman menyapaku dengan kasih, atas namamu, aku teringat banyak tawa yang kita cipta. Soal bagaimana kopiku menjadi manis tak bertempat. Dan susu milikmu cokelat pekat. " Hahahaha" Sungguh, jangan ulangi itu lagi. Kekonyolan yang sangat sulit aku lupakan. Lalu aku ingat, sosokmu belum aku perkenalkan. ... Agra, pria atau lelaki. Lebih mudah aku menyebutmu 'boy' , kita lama tak jumpa bukan? Jika kau membaca ini, semoga lukisanmu laku ya? Tentang pria yang menerima pelarianku sebagai kunjungan tak terduga. Segala aroma seni, cat minyak, kanvas, laut, dan tentunya Dewa Dewi, melekat padamu. Sungguh, ingin aku ucapkan selamat ulang tahun, meski telah berlalu berbulan lalu. Semoga kau tak keberatan aku menulis ak...

Kenapa Saya Membenci Anda?

Ini bahagiaku. Begitu saya katakan pada mereka yang bertanya dan bergumam, mengapa saya berlaku demikian. Ada kalanya manusia memerlukan banyak perhatian dari orang sekitar untuk mendapat pujian, juga dipandang sebagai yang paling diperlukan. Meski pada kenyataan yang saya lihat, orang-orang tersebut hanya ingin menunjukkan, siapa mereka yang sebenarnya tanpa mencoba merugikan orang lain. Jika ada yang keberatan dengan pernyataan saya, silahkan tinggalkan komentar anda di bawah. Saya memberi pernyataan demikian sebab, banyak sekali ketidaksukaan seseorang pada seorang yang lain tanpa kejelasan yang dapat dimengerti oleh si ' orang' tersebut. Contoh: Andi tidak suka kepada Ani sebab Ani selalu memakai rok pendek dan berbahasa asing. Andi tidak suka Ani memakai rok pendek karena itu menggugat imannya. Andi tidak suka Ani menggunakan bahasa asing karena Andi merasa canggung sebab Ia tidak bisa berbahasa asing. Apakah konteks ketidaksukaan anda semua hampir mirip dengan conto...