Ini pukul 20.57 milikku setelah yang kedua belas kalinya tanpa bertemu denganmu. Rasanya menyedihkan, aku menikmati banyak bahagia tanpa bisa berbagi senyum dan cerita asap denganmu. Walaupun begitu sedih, aku tahu, kau bahagia saat ini.
Dan ketika seorang teman menyapaku dengan kasih, atas namamu, aku teringat banyak tawa yang kita cipta. Soal bagaimana kopiku menjadi manis tak bertempat. Dan susu milikmu cokelat pekat.
"Hahahaha"
Sungguh, jangan ulangi itu lagi. Kekonyolan yang sangat sulit aku lupakan.
Lalu aku ingat, sosokmu belum aku perkenalkan.
...
Agra, pria atau lelaki. Lebih mudah aku menyebutmu 'boy', kita lama tak jumpa bukan?
Jika kau membaca ini, semoga lukisanmu laku ya?
Tentang pria yang menerima pelarianku sebagai kunjungan tak terduga. Segala aroma seni, cat minyak, kanvas, laut, dan tentunya Dewa Dewi, melekat padamu.
Sungguh, ingin aku ucapkan selamat ulang tahun, meski telah berlalu berbulan lalu. Semoga kau tak keberatan aku menulis akan dirimu yang tak suka berkeliaran sepertiku.
Siapa pun yang membaca ini, perkenalkan. Agra, sahabatku dari pulau Dewata. Pria pemalas, penyuka senja yang menjelma menjadi pelukis apa adanya.
Patah hati Ia torehkan dalam karya, lukisan yang tak dapat kita lihat maknanya. Tapi sungguh, itu uniknya Agra.
Agra bisa menjadi siapa pun dan apa pun kita mau. Tour guide, guru, penyanyi, tukang masak, abang es cendol, mas-mas warung kopi, tapi Ia lebih suka menjadi dirinya sendiri; pelukis tak bernama.
Ya, Ia selalu mengatakan bahwa hidup itu bukan tentang pasrah pada keadaan. Ada banyak pilihan.
Baik dan buruk.
Salah dan benar.
Sehat dan sakit.
Kaya dan miskin.
Juga pilihan untuk;
maju ataukah mundur.
Asalkan kita memiliki pilihan. Dan biarkan menjadi pelangi dalam hidup kita. Jangan selalu menjadi orang baik, sebab kita akan terkhianati suatu saat nanti. Jangan pula selalu jahat, karena kita perlu tabiat baik ketika menghadap Tuhan.
Dan mengapa Agar tak ingin dikenal? Sebab Ia tahu, namanya tak akan menjadi sebaik karyanya. Kelakuannya tak semanis filosofi lukisan yang dibuatnya. Atau masa lalu, kini, dan masa depan miliknya tak seindah yang dapat diterka.
...
Begitulah Agra si Pelukis Tanpa Nama. Menjadikan segala kekonyolan itu sebuah cara untuk mewarnai hidupnya. Dan aku mengenalnya di senja terakhir pulau Dewata. Saat pelarian romantis mengekangku setahun lalu.
Agra, I miss you :)
Di tulis pada pukul 20.57, 18.07.2017,
Dengan hati sedikit ragu-ragu, dan penuh rindu. Salam untuk Mom and Dad. :)
Comments